RELIMA Takalar Orasi Budaya Di Peringatan HUT Ke-13 Sanggar Seni Akkarena Amas Madina, Momentum Rawat Literasi Budaya di Museum Balla Appaka Sulapak Takalar

 

RELIMA PERPUSNAS RI Lokus Takalar Saat Orasi Literasi Budaya Di Peringatan HUT Gaukang Ke XIII Sanggar Seni Akkarena Amas Madina Takalar

Takalarterkini.com, - Takalar. Halaman Museum Daerah Balla Appaka Sulapak Kabupaten Takalar bergemuruh dengan nuansa sakral kebudayaan pada Sabtu (18/7/2026) malam.


​Di bawah temaram lampu cagar budaya tersebut, Sanggar Seni Akkarena Amas Madina Takalar sukses menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13. Pergelaran tahunan ini menjadi panggung pembuktian konsistensi sanggar seni lokal dalam merawat ingatan dan melakukan literasi budaya kepada generasi muda.


​Melalui ragam pertunjukan yang ditampilkan, sanggar seni ini secara konsisten terus melakukan regenerasi keanggotaan dan melestarikan budaya lokal lewat media seni pertunjukan.


​Orasi Budaya RELIMA Perpusnas RI

​Menariknya, momentum refleksi 13 tahun ini diisi dengan suntikan semangat literasi. Hadir membawakan sambutan sekaligus orasi budaya, yakni perwakilan Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpusnas RI Lokus Takalar Abdul Jalil Mattewakkang yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Literasi Budaya Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Takalar.

RELIMA PERPUSNAS RI Lokus Takalar Saat Berorasi


​Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa merawat kesenian daerah bukan sekadar masalah estetika pertunjukan, melainkan bagian dari merawat fondasi literasi kebudayaan masyarakat.


​"Melalui seni, kita sedang membaca, memahami, dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur leluhur kita. Inilah esensi sejati dari literasi budaya," ujarnya di hadapan para penggiat seni dan masyarakat yang memadati halaman museum.


​Suguhan Epik Monolog "Panaiki Sombalaka" dan Tari "We Fatima Banri"

​Pantauan di lokasi acara, perayaan HUT ke-13 ini memukau ratusan pasang mata yang hadir melalui deretan pertunjukan teatrikal yang kental akan sejarah Makassar.

Penampilan Monolog "Panaiki Sombalaka"


​Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan monolog budaya lokal bertajuk "Panaiki Sombalaka". Monolog ini menyajikan narasi filosofis mendalam tentang keteguhan, keberanian, dan pelayaran hidup masyarakat Makassar yang sarat akan pesan moral (pappasang).


​Tak kalah memukau, riuh tepuk tangan penonton pecah saat para penari sanggar naik ke atas panggung mementaskan tarian teatrikal berjudul "We Fatima Banri". Tarian ini berhasil membawakan atmosfer heroisme sekaligus keanggunan tokoh perempuan dalam memori kolektif kebudayaan lokal.


​Acara yang berlangsung hingga larut malam ini tidak hanya menjadi ajang seremonial ulang tahun semata, melainkan menjadi ruang edukasi terbuka bagi masyarakat Takalar untuk kembali mendekatkan diri dan mencintai akar budayanya sendiri. AJM/RedTT.


Penulis: RELIMA PERPUSNAS RI Lokus Takalar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FORS 2025 SMAN 5 Takalar Resmi Dibuka, Angkat Semangat Sportivitas Dan Kreativitas

Tim BKP-PK Psikologi UNM Gelar Program Pendampingan “Tabung Emosi” Bagi WBP Lapas Kelas IIB Takalar

Aklamasi, Alauddin Torki Pimpin KONI Takalar Dalam Rapat Pleno